Produksi minyak nabati merah Indonesia dikatakan 20 tahun lebih tua dibandingkan Malaysia.

Uncategorized69 Dilihat

TEMPO.CO, Jakarta – Indra Budi Susetyo, peneliti Pusat Penelitian Agroindustri, Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN; Minyak goreng berwarna merah Ini bukan produk minyak sawit yang baru diproses. Minyak yang disingkat M3 ini telah diteliti selama 20 tahun.

Bahkan, Indra mencatat di negara tetangga seperti Malaysia, produk M3 sudah banyak dikenal dan menjadi komoditas pokok. Ia membandingkannya dengan pabrik minyak Makan Merah yang dibuka Presiden Joko Widodo di Wilayah 1, PT Perkebunan Nusantara 1, di Desa Pagar Merbau II, Deli Serdang, Sumatera Utara, Kamis pekan lalu.

“Di Indonesia, penelitian M3 sudah dipopulerkan oleh para ahli IPB beberapa dekade lalu,” kata Indra. TEMPORabu 20 Maret 2024.

Berdasarkan data yang dikumpulkan, industri M3 sudah lama populer di negara tetangga. Beberapa merek populer yang memproduksi minyak goreng mentah adalah Carotino, Harvest, Dr. Normal, Nutroline, Suno Unrefined, dan Elysee.

Seperti namanya, M3 diproduksi dengan warna merah cerah dibandingkan minyak nabati biasa. Khusus di Indonesia, variasi warna produk ini bisa menjadi kendala pasar karena masyarakatnya adalah orang asing, kata Indra.

Presiden Jokowi meninjau kemasan minyak goreng berwarna merah usai pembukaan pabriknya di Dili Erdang, Sumatera Utara, 14 Maret 2024. Foto: BPMI Setpress/Kris

iklan

Dijelaskan Indra, warna merah cerah tersebut disebabkan oleh proses pemurnian minyak Menyisir Seperti minyak goreng biasa. Perbedaan pengolahan ini membuat warna cerah dan aroma buah sawit tetap kuat dan terjaga hingga akhir produksi.

Meski tidak lolos. Menyisir, Indra meyakini nutrisi yang terdapat pada minyak goreng merah lebih tinggi dibandingkan produk konvensional. Faktanya, minyak ini masih mengandung senyawa fitonutrien seperti vitamin A, tokoferol, dan tokotrienol seperti vitamin E dan squalene.

Baca Juga  Berikut 5 makanan terburuk asal Indonesia menurut Taste Atlas.

“Ini berbeda dengan minyak goreng biasa. Soalnya minyak yang kita pakai sekarang sudah kehilangan sumber vitamin A karena proses pengolahannya. Lalu ditambahkan lagi pada tahap akhir,” kata Indra.

Pilihan Editor: Tim peneliti Gunung Padang menanyakan kesalahan besar pada majalah yang menyebabkan penerbitannya dibatalkan



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *