Di Karimunjawa, beberapa tambak udang yang diduga mencemari lingkungan sudah tidak berfungsi lagi

Uncategorized70 Dilihat

TEMPO.CO, Jakarta – Ruang Udang Kepulauan Karimunjawa yang diduga mencemari lingkungan, sudah tidak berfungsi selama beberapa bulan terakhir. Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan, KLHK menangkap tersangka perusakan lingkungan di Taman Nasional Karimunjawa pada Rabu, 20 Maret 2024.

Terlihat di Desa Mujan, Kecamatan Karimunjawa, Negeri Jepara, aktivitas budidaya udang sudah mulai terhenti. “Sudah beberapa bulan kolamnya tidak berfungsi,” kata Kepala Desa Kemujan Masud Dwi Wijayanto, Senin, 25 Maret 2024.

Namun dia mengatakan masih ada tambak yang aktif hingga udang yang dihasilkannya siap dipanen. “Kalaupun masih ada operasi, mereka hanya bisa berharap ekspansi atau penggemukan untuk mempertahankan produksi,” ujarnya.

Menurutnya, ada sekitar sepuluh tambak udang di Desa Mujan. Kegiatan budidaya udang serupa juga terjadi di desa lain di Kabupaten Karimunjawa.

Bambang Zakaria, koordinator Karimunjawa Fighting Club, mengatakan beberapa tambak udang masih beroperasi. “Mereka juga ada di Desa Legon Lele, Jatikerep, Nyamplungan, Alang-Alang dan Mujan,” ujarnya.

Gakkum KLH K Wilayah Jawa Bali Nusa Tenggara atau Jabalnusra menetapkan empat tersangka perusak kawasan Karimunjawa. Mereka adalah SL warga Surabaya dan S, TS dan MSD. Tiga nama terakhir merupakan warga Negeri Jepara.

Penetapan 4 pelaku kejahatan ini sebagai tersangka akan menghambat kerugian dan ancaman bagi pelaku kejahatan lainnya serta menjaga kelestarian Taman Nasional Karimunjawa, kata Direktur Jenderal Penegakan Hukum LHK, Rasio Rido Sani, dalam keterangan tertulisnya.

Sebelumnya Gakkum KLHK mendapat keluhan air Taman Nasional Karimunjawa tercemar limbah tambak udang sehingga mengganggu aktivitas pariwisata dan terumbu karang. Balai Gakkum KLHK Jabalnusra mengambil langkah meyakinkan dengan memasang plang larangan membuang sampah sembarangan di lokasi tersebut.

iklan

Namun, pemilik tambak udang tidak mengikuti saran tersebut. Mereka terus membuang limbah tambak udang ke perairan Taman Nasional Karimunjawa. Mereka diduga mengambil air dari Karimunjawa menggunakan pipa yang dialirkan ke kolam.

Baca Juga  Jokowi: Tanya Menkeu soal utang proyek kereta cepat yang dijamin APBN

Mereka kemudian diduga membuang limbah tambak udang ke perairan Karimunjawa tanpa izin sehingga menyebabkan kerusakan terumbu karang. Limbah ini juga ditengarai menimbulkan rasa gatal pada wisatawan yang melakukan aktivitas wisata di pantai dan perairan Karimunjawa.

Menurut Ratio, tindakan perusakan lingkungan hidup di Karimunjawa merupakan kejahatan berat. “Kejahatan ini telah merusak ekosistem, masyarakat, dan negara. Demi keadilan, pelakunya harus dihukum seberat-beratnya. Kami sudah memperingatkan mereka untuk menghentikan aktivitasnya, namun mereka tetap tidak patuh,” ujarnya.

Berdasarkan bukti-bukti yang dikumpulkan Gakkum KLHK dan informasi para ahli, kegiatan pengembangan tambak udang di Karimunjawa telah menyebabkan kerusakan terumbu karang. Para tersangka dijerat dengan hukuman minimal 3 tahun penjara dan lebih dari 10 tahun penjara serta denda minimal 3 miliar birr dan denda sesuai Pasal 98 Pasal 1 Undang-Undang RI No.32 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lingkungan Hidup. dan manajemen. Maksimal Rp 10 miliar.

Pengacara pengusaha tambak udang di Karimunjawa dari Lembaga Bantuan Hukum Indonesia tidak menanggapi keputusan tersangka. Presiden Elbhim Hutomo Daru sebelumnya berjanji akan memberikan tanggapan, namun belum memberikan tanggapan.

Pilihan Redaksi: Aktivis lingkungan ICJR Karimunjawa Daniel Fritts memaparkan 4 alasan mengapa ICJR harus dilepas.



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *