Banyak Ipal Komunal Resahkan Warga T.Tinggi

Foto : LIMBAH Ipal komunal di Gg. Musyawarah, Jalan Udang, Kel. Badak Bejuang, yang merembes keluar saluran dan bikin resah warga sekitar.

TEBINGTINGGI – MEDIASUMUT.COM-Instalasi pengolahan limbah (Ipal) komunal yang banyak tersebar di berbagai kelurahan di Kota Tebingtinggi, ternyata belakangan menjadi sumber keresahan warga sekitar. Pasalnya, banyak limbah komunal yang dananya berasal dari hibah berbagai negara maju tak dikelola secara baik, hingga berakibat jadi beban masyarakat sekitar, khususnya kebocoran saluran teknis.

Dari sejumah laporan, Rabu (11/4), sejumlah Ipal komunal yang pembangunannya dikerjakan Bappeda dan pengelolaannya dialihkan ke Dinas Pekerjaan Umum, mengalami kebocoran sehingga limbah kotoran manusia itu tercecer di pemukiman masyarakat. Kebocoran Ipal komunal terjadi di Gg. Musyawarah, Jalan Udang, Kel. Badak Bejuang, Kec. T.Tinggi Kota, kemudian di Link. 02, Kel. Satria, Kec. Pd. Hilir, serta di Gg. Subur, Jalan Lama, Kel. Sri Padang, Kec. Rambutan. Sedangkan di beberapa kelurahan lain, banyak Ipal komunal yang tidak berfungsi secara baik.

Salah seorang warga Gg. Musyawarah, Kel. Badak Bejuang, Syahruddin, mengatakan sudah dua minggu kebocoran saluran Ipal komunal itu tidak diperbaiki oleh Dinas PU. Akibatnya, masyarakat sekitar Ipal menghadapi bau busuk yang menyengat. “Sudah kita kasih tahu ke Dinas PU tapi belum ada tindakan, malah waktu kita beritahu mereka bilang dulu sudah dibersihkan”, cetus Syahruddin.

Pada lokasi Ipal komunal di Kel. Satria, hal sama juga dialami masyarakat. Kondisinya lebih parah, karena sejak lama Ipal komunal itu tidak dikelola secara baik. Sehingga limpahan limbah rumah tangga yang keluar membuat warga sekitar tidak nyaman. “Apalagi kalau sudah tengah hari baunya menguap kemana-mana”, keluh warga.

Pembangunan Ipal komunal merupakan hibah yang diberikan oleh lembaga-lembaga resmi negara maju ke Kota Tebingtinggi mulai dari 2013 hingga 2017, seperti USAID Amerika, AuSAID Australia dan JICA Jepang, Islamic Development Bank (IDB), maupun bantuan dari PNPM. Pembangunan berlangsung selama beberapa tahun, misalnya bantuan JICA sebanyak 10 unit Ipal komunal pada 2013, kemudian dilanjutkan dengan pembangunan beberapa Ipal lainnya dari lembaga hibah. Pembangunan Ipal komunal per unit mencapai Rp425 juta yang dibangun oleh komunitas setempat. (TM 09))