Gas Elpiji 3kg Langkah,  Ini yang di Lakukan Pemkab Tapteng

Mediasumut.com | TAPTENG | -Untuk meminta penambahan alokasi gas elpiji bersusidi 3 Kg di daerah Tapteng. PT Parbue Nauli Gasindo, salah satu agen elpiji 3 Kg di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), menyarankan agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapteng menyurati BPH Migas.

Terkait kuota gas elpiji 3kg didaerah Tapteng 3 minggu ahir-ahir ini. Menurut Hasoloan Tampubolon, pemilik PT Parbue Nauli Gasindo kepada awak media, Selasa (5/9), ada 3 perusahaan agen resmi elpiji 3 Kg di Tapteng. PT Parbue Nauli Gasindo mendapat alokasi 2 LO (Loading Order) per hari. Sedangkan dua agen lainnya mendapatkan alokasi 1 LO dan 3 LO per harinya.

“Perusahaan saya dapat 2 LO per hari. Untuk perusahaan milik si Liber mendapat alokasi 1 LO. Sementara untuk perusahaan Nauli Basa milik Oksan mendapat alokasi 3 sampai 3,5 LO per hari. 1 LO sama dengan sebanyak 560 tabung. Jadi alokasi untuk Tapteng ada 6,5 LO per harinya. Kalau di total ada sebanyak 3.360 tabung perharinya untuk Tapteng. Jadi kemana ini setiap hari. Bingung kita,” sebut Hasoloan Tampubolon.

Diakui Hasoloan, jumlah itu memang terbilang masih kurang untuk memenuhi kebutuhan elpiji 3 kg di wilayah Tapteng, berdasarkan jumlah penduduk yang kurang mampu di daerah Tapteng. Kata Halosoan, dia sudah pernah menyarankan agar Pemkab Tapteng meminta penambahan kuota.

“Waktu rapat terakir dengan pihak Pemda, saya sudah sampaikan di forum agar alokasi elpiji 3 Kg di Tapteng dapat ditambah. Saya minta supaya disurati ke PBH-Migas, bukan ke Pertamina. Karena pertamina hanya regulator, dia tidak bisa memberikan begitu saja (penambahan) tanpa ada dasar yang menyatakan akan ditambahkan alokasi untuk daerah itu. Itu berpulang kepada BPH Migas”. jelasnya.

Masih menurut Hasoloan, Harusnya pemerintah daerah yang lebih proaktif untuk mengejar, supaya kebutuhan elpiji di Tapteng dapat terpenuhi.

Salah satu penyebab terjadinya kekurangan kuota ini, kata Hasoloan lagi, dikarenakan data yang dipakai masih data yang lama. Diawal masuknya elpiji 3 Kg menggantikan minyak tanah, masih banyak warga yang tetap bertahan untuk memakai minyak tanah dan tidak mau memakai gas elpiji.

“Tapi setelah merasakan keuntungan memakai gas elpiji, warga berbondong-bondong memakai elpiji, sehingga terjadi kekurangan kuota”. tukasnya.

Terjadinya kelangkaan gas elpiji bersubsidi membuat bingung, Hasoloan. Diakuinya, PT Parbue Nauli Gasindo perusahaan miliknya, selalu menyalurkan elpiji 3 Kg sesuai kuota kepada 45 pangkalan untuk wilayah Tapteng. Setiap penyaluran ke pangkalan ada tanda terimanya.

Untuk itu, Hasoloan Tampubolon setuju dilakukan pengusutan terkait kelangkaan elpiji 3 kg. Dia menyambut baik dilakukan razia baik itu kepada agen dan juga pangkalan-pangkalan. Sebab menurutnya, tidak masuk akal terjadi kelangkaan di Tapteng, karena pasokan terus masuk. Dia juga berharap adanya peran serta masyarakat untuk melakukan pengawasan terhadap penyaluran elpiji bersubsidi ini.

“Kami sendiri bingung atas kelangkaan elpiji ini. Cocok, kalau memang ada orang yang melakukan itu, pantas untuk diusut. Saya juga ikut di tim monitoring untuk itu. Kami sudah jalan di 23 kabupaten/kota”. tukasnya.

“Berapa banyakpun ditambah jatah ke Tapteng kalau tidak ada pengawasan akan tetap langka. Kalau kami dari PT. Parbue Nauli Gasindo selalu menyalurkan sesuai dengan aturan. Bahkan menjual satu tabung pun kami tidak berani kepada masyarakat”. pungkas Hasoloan.

Masih kata Hasoloan, kelangkaan gas elpiji 3kg di Tapteng ini bermusim. “Pertanyaannya, kenapa bulan-bulan yang lalu tidak ada kelangkaan, toh itu juga penduduk Tapteng”. Ujarnya.  (*ms)