PASS Bersaudara: Pembangunan Aceh Singkil Harus Fokus dan Berkesinambungan

Mediasumut.com, –  JAKARTA |Pembangunan Kabupaten Aceh Singkil kedepan harus fokus dan berkesinambungan, jika Aceh Singkil mau keluar dari “Lebel” daerah tertinggal. Hal ini penting, melihat perjalanan panjang Kabupaten Aceh Singkil selama 18 tahun saat ini belum bisa menampakkan “wajah indahnya” kepada publik luas, ujar M Hadi Nainggolan selaku Ketua Dewan Pembina Pemuda Aceh Singkil Subulussalam (PASS) Bersaudara Jabodetabek dalam siaran persnya di Jakarta.

Setidaknya ada 5 fokus yang mesti menjadi konsen Pemerintah Aceh Singkil. 

Pertama; SDM Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sumber Daya Manusia adalah hal yang utama dalam membangun apa saja di dunia ini. Apalagi dalam pemerintah yang konsepnya kerjanya adalah “Pelayanan Masyarakat”. Jika kita ingin memberikan pelayanan prima bagi masyarakat, maka SDM PNS yang melayani masyarakat harus terlebih dahulu dirubah mindset dan kompetensinya. PNS adalah Fondasi utama dalam memajukan pembangunan dan pelayan prima di Aceh Singkil. 

Kedua; Pariwisata, konsep pengembangan pariwisata itu dasarnya adalah ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal. Aceh Singkil harus bisa menciptakan strategi “low budget high impact” dalam membangun kekuatan sektor pariwisatanya, bagaimana menggerakan banyak pihak agar objek pariwisata Aceh Singkil bisa dibangun bersama-sama serta mampu melibatkan pihak swasta profesional. Potensi wisata Pulau Banyak dan Rawa Singkil memiliki kans besar menjadi destinasi pariwisata kelas dunia. Pulau Banyak itu satu level dengan “Maldives” dan Rawa Singkil itu “the little Amazon” from Indonesia.

Ketiga; Perkebunan, salah satu komoditi andalan Aceh Singkil adalah kelapa sawit. Perkebunan kelapa sawit bisa menjadi kekuatan Aceh Singkil. Kita harus berfikir bagaiman perkebunan kelapa sawit ini tidak lagi hanya dimiliki oleh perusahaan-perusahaan besar atau segelintir orang saja, tapi bagaimana pemerintah Aceh Singkil dapat mendistribusikan lahan-lahan yang masih “dimiliki” oleh pemerintah, atau HGU yang sudah tidak diperpanjang lagi bisa menjadi milik rakyat. Kalau saja 40% penduduk Aceh Singkil bisa memiliki dua sampai lima hektar perkebunan kelapa sawit per keluarga, itu artinya angka kemiskinan dan gini rasio Aceh Singkil akan turun secara signifikan.

Keempat; Perikanan, potensi perikanan dari laut Aceh Singkil sudah tidak diragukan lagi. Bahkan kawasan bahari Aceh Singkil selalu menjadi “ladang” pencurian ikan dari para nelayan dari luar negeri. Limpahan aneka ikan yang sudah diberikan Tuhan kepada Aceh Singkil mesti harus dikelola dengan konsep yang benar. Ada 5 Kecamatan di Aceh Singkil yang memiliki perairan-laut. Andai saja 15% penduduk Aceh Singkil yang tinggal dikawasan bahari fokus dibina menjadi Nelayan profesional dan mandiri, tentu Aceh Singkil akan menjadi salah satu “lumbung ikan” terbesar di Aceh dan Sumatera Utara. Para nelayan akan menjadi lebih sejahtera, dan tentu akan memberi “multi effect player” terhadap sektor lainnya.

Kelima; Perdagangan, Aceh Singkil harus dibangun dengan cara pandang bahwa Aceh Singkil bukan lagi daerah yang paling pinggir. Butuh kacamata berbeda untuk melihat Aceh singkil saat ini.  Aceh Singkil berpotensi menjadi “hub” Bisnis dan Perdagangan untuk Wilayah Kepulauan Nias yang terdiri dari 5 Kabupaten/Kota, Kabupaten Seumelue dan daerah-daerah lainnya. Demikian imbuh Hadi yang juga Pengusaha Muda di Jakarta asal Rimo tersebut.

Sementera itu, Ketua Umum PASS Bersaudara Jabodetabek Ahmad Hariono Mengatakan beberapa hal konsen utama pembangunan Aceh singkil adalah di sektor insfrastruktur. Ini harus dipertegas dan juga merata diseluruh wilayah Aceh Singkil.

Dengan infrastruktur yang memadai, kedepannya efisiensi yang dicapai oleh dunia usaha akan makin besar dan investasi yang didapat semakin meningkat. Karena tingkat ketersediaan infrastruktur di suatu daerah adalah faktor penting dan menentukan bagi tingkat kecepatan dan perluasan pembangunan ekonomi.

Pemerintah Aceh Singkil juga perlu investasi pada “manusianya”, melalui pendidikan di negara-negara maju dan berkembang. Yaitu menyekolahkan siswa-siswi terbaik dan terpilih Aceh Singkil keluar negeri setiap tahunnya.

Sehingga memiliki karakter, pengetahuan, values, attitude dan skills yang kedepannya dapat membangun perekonomian di Aceh Singkil.

Setelahnya pemerintah sangat perlu membangun di sektor entrepreneurship di Aceh Singkil, agar pengusaha dan wirausaha baru semakin meningkat dan terus tumbuh. Anak muda yang lulus dari perguruan tinggi, menengah atas dan kejuruan dapat ber mindset entreprenuer.

 

Pemerintah dapat mendorong melalui menyediakan berbagai fasilitas dan pelatihan untuk menempah kreatifitas dalam menjalankan usaha, menyiapkan permodalan dan memudahkan perijinan usaha. Serta membuka peluang bagi investor yg mau masuk untuk bekerjasama, dengan demikian Pengusaha dan Wirausaha baru bisa tumbuh ke angka 2 – 4%, di Aceh Singkil, yang itu akan memberi dampak nyata membuka Lapangan Pekerjaan. Misalkan ada 2% dari jumlah penduduk Aceh Singkil (sekitar 110.000 jiwa) itu artinya ada sekitar 2.200 orang yang menjadi pengusaha baru. Kalau saja satu orang pengusaha baru bisa menyerap 5 lapangan pekerjaan tentu itu mampu menyiapkan lapangan kerja untuk 11.000 orang penduduk Aceh Singkil. Demikian ujar Ahmad Hariono yang juga CEO Graha Inspirasi. (*ms)