Ayo kita lestarikan 3 S,  Senyum,  Sapa,  Salam

Mediasumut.com | TAPUT |- Budaya Senyum Sapa Salam ( 3-S ) nampaknya sudah jarang diterapkan oleh masyarakat terutama dikota-kota besar.

Budaya Senyum Sapa Salam merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan,misalnya saat kita bertemu dengan teman lama,saudara maupun keluarga dekat secara spontanitas merasa bahagia dan senyum lalu menyapanya sekalian memberi salam.

Namun jika kondisi tidak memungkinkan kita bisa memberi senyuman,contoh saat mengendarai kendaraan dan lain lain. Orang tersebut merespon dengan senang hati.

Jika tersenyum tubuh akan mengeluarkan hormon yang baik dan positif tentunya kesehatan.

Tetapi kenapa budaya 3-S mulai luntur,apa susahnya menerapkan ?

Dalam kehidupan bermasyarakat budaya 3S ini sangatlah diperlukan menjaga keharmonisan antar sesama baik bernegara dan berbangsa demi keutuhan Kebhinekaan dan persatuan.

Dengan menerapkan budaya 3S ini perbedaan yang ada di Tapanuli utara dapat dilebur hanya satu budaya,yaitu Senyum Sapa Salam. Bahkan memberi banyak dampak positif baik pada diri sendiri maupun mempererat tali persaudaraan,agama dan suku,maka hidup tenang dan damai.Orang yang kita benci tak perlu diperlakukan kasar cukup menerapkan budaya 3S dan juga akan mendapatkan pahala.

Percaya atau tidak,Obat dari dokter tidak semua bisa menyembuhkan semua penyakit.Baik penyakit yang ditimbulkan oleh karena tekanaan atau stres belum tentu disembuhkan total jika hanya mengkonsumsi obat dari dokter saja.

Selanjutnya kita akan menghilangkan akar tekanan dan stres dengan keampuhan budaya 3S.

Konsep dan Progres 3-S,adalah Pembentukan karakter yang berporos pada asas kesantunan secara personal atau jamak.

SENYUM : Adalah Ketika budaya ramah terlihat dari raut wajah,mengundang lawan bicara dengan ajakan familiar.

SAPA: Adalah Ketika membuka diri untuk silahturahmi dan bersikap menerima akan personal.

SALAM: Adalah Ketika akrab dimana nilai santun dan keterbukaan dengan mudah terjalin secara komunikatif juga respon positif.

Budaya 3-S adalah konsep yang mengandalkan sikap personifikasi dengan kemampuan tutur kata yang santun serta merta tidak menunjukkan sikap aprori.

Respon positif atau negatif adalah bukti apresiasi yang spontan,harfiah,tersirat,tercermin dari raut waja dan mimik.

Untuk itu mengapa Budaya 3-S kembali dihanturkan sebagai landasan hidup bersosialisasi,menghargai dan saling menghormati salah satu ujung tombak Ketuhanan dan Kesatuan.

Semakin kokoh meningkatkan Kesatuan yang berlandaskan Ketuhanan maka semakin tangguh menghadapi tantangan hidup.Konsep 3S ini menjadi tolak ukur dan alat komunikasi yang telah dilakukan Drs Nikson Nababan MSi dalam memimpin Kabupaten Tapanuli Utara.(*ms)