Waah…  Danau toba akan meletus,

SIMALUNGUN, mediasumut.com  – Empat belas warga yang dicurigai sebagai pendatang ilegal di Huta Sitahoan, Nagori Sipangan Bolon Induk, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon (Girsip), Simalungun, diamankan pihak Unsur Pimpinan (Uspika) setempat.

Polisi desersi dari Polres Dumai, E Sitohang. (Silalahi/)

Ke-14 warga dicurigai, di antaranya 4 orang anak-anak, 5 remaja dan 5 orangtua, antara lain Regen E Sitohang (46), seorang mantan personil Polres Dumai, warga Jalan Arjuna, RT 003 Desa Mekar Sari, Kecamatan Dumai Selatan, Dumai, Riau, Evaluciana boru Harianja (41), Reavhanae Maroeli, Christiyanto Sitohang (18), Raja Pande Beni Togar (16), Rivaldo Berlindo Sitohang (13), Christine Lydia Hotuli (10) dan Adventharia Putri Sitohang (9) semuanya merupakan satu keluarga.

Warga lainnya, Zakari Abdi Sinura (32), warga Jalan Torpisang Mata, Desa Bina Raga, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhan Batu, Meylani Paraek Natio Sinurat (4) dan Lambok H Sinurat (42), warga Jalan Putri Ayu, RT/RW 002/003, Desa Mumugo, Kecamatan Tanah Putih, Kabupaten Tanah Putih, Riau, Kasiani (40 ), Doli Saut Sinurat (21), Nartali Agil Sinurat (16), dan Maria Nauli Basa Sinurat (10). Mereka kini telah diamankan di Polsek Parapat.

Menurut Lambok H Sinurat, selaku ketua rombongan menyampaikan, mereka tinggal di kawasan hutan hanya sekadar untuk mencari tumbuh-tumbuhan menjadi obat.

“Tujuan kami di daerah Hhutan Sitahoan hanya sekadar mencari obat. Tidak ada niat lain. Dan kami rencanakan di hutan itu selama dua minggu,” papar Lambok saat diinterogasi di Polsek Parapat, Rabu (9/8) sekira jam 14.00 Wib.

Dikatakannya, dia bersama keluarga, anak dan adik ipar sengaja mencari obat di hutan karena mendapat ilham atau bisikan dari leluhur suku Batak.

“Saya pernah mimpi Danau Toba akan meletus dan saya tidak bisa memastikan kapan atau kebenarannya. Makanya, kami ambil pulungan obat di hutan register II Sibatu Loting,” ujarnya.

Ketika ditanya asal usulnya, Lambok mengatakan, mereka pernah tinggal di Dumai, kemudian di Pusuk Buhit, Samosir selama 6 bulan, ke Dolok Matiur Tigadolok, dan terakhir ke Huta Sitahoan.

“Setelah pulungan obat dapat, kami langsung pulang ke Kota Dumai, karena kami memang melayani pasien di sana. Jadi selama kami berpindah-pindah tinggal tidak ada kegiatan kami yang llegal,” terang Lambok.

Terpisah, mantan polisi yang telah disersi, Regen E Sitohang mengatakan, dirinya ikut bergabung mencari obat di hutan supaya dapat melayani pengobatan kepada masyarakat.

“Saya memang mantan polisi di Polres Dumai, tapi sebelumnya sudah saya usulkan surat pengunduran diri. Dan saya ikut mengambil obat supaya bisa melayani mengobati masyarakat, tidak ada tujuan lain, saya meninggalkan tugas lebih kurang satu tahun,” ungkap Regen.

Saat diinterogasi Kapolres Simalungun, AKBP M Liberty Panjaitan, Lambok Sinurat mengatakan, mereka hanya mencari pulungan obat. Kemudian, Marudut menuding Lambok sengaja menciptakan sensasi untuk ketenaran.

“Kau jangan buat sensasi di Kabupaten Simalungun, dan kau perlu diobati. Dasar apa kau buat penelitian di sini? Juga kau terlantarkan atau libatkan anak-anak sampai tidak sekolah. Yang jelas kau mendongeng untuk mengambil ketenaran. Kalau kulihat kau masuk ke Kabupaten Simalungun, ini pertama dan terakhir. Bila ditemukan lagi kutangkap kau. Ingat itu. Dan saya perintahkan supaya mantan anggota disersi ditahan menunggu dijemput kesatuan Polres Dumai,” tegasnya.

Sementara Kapolsek Parapat, AKP Hitler Sihombing menyebut, salah satu warga yang ditahan memang mantan polisi. Tapi belum keluar surat permohonan pensiun dini dia sudah meninggalkan tugas. “Jadi status dia sekarang disersi,” kata Hitler.

Hitler sebutkan, keberadaan warga tersebut awalnya ada informasi dari warga melalui kepala nagori.

“Kemudian pangulu menyampaikan kepada pihak kita. Kemudian ditindaklanjuti ke TKP, ternyata benar ada penduduk ilegal. Sempat kita berikan imbauan supaya meninggalkan tempat, ternyata ada perintah pimpinan supaya direlokasi. Karena ada keterlibatan mantan anggota polisi makanya dibawa ke Polsek Parapat,” kata Hitler.

Dia menyebutkan, ikut merelokasi para warga dimaksud adalah Uspika Girsip, Basarnas, AKNI, Dinas Kehutanan, Pangulu, dan perangkat desa setempat. “Keluarga lainnya akan dipulangkan ke asalnya, sedangkan mantan Polisi ditahan,”
Sumber:m24s