Bayi-bayi Hasil Zina Cewek Malam itu Kini Telah Besar, Ini Ceritanya…

mediasumut.com  – Dibongkar Polres Simalungun dan melibatkan 14 tersangka, inilah kisah lengkap tentang perjalanan penjualan bayi-bayi hasil zina sejumlah cewek malam di kawasan Tanah Jawa, Simalungun.

“Perdagangan anak itu dilakukan secara berantai dan melibatkan banyak orang. Kasus itu berawal dari bantuan persalinan terhadap orangtua anak yang kemudian diperdagangkan,” Kabid Humas Polda Sumut Kombes (Pol) Rina Sari Ginting bercerita di Medan, Senin (7/8).

Dimulai tahun 2010, kisah penjualan bayi yang berawal dari Huta Aek Liman di Nagori Buntu Bayu, Kec Hatonduhan, Simalungun, itu kandas Senin malam 24 Juli lalu saat polisi menggrebek transaksi sindikat ini di Huta VIII Desa Huta Padang, Kecamatan Bandar Pasir Mandoge, Asahan.

Ceritanya, Lentina Panjaitan alias Bunga (26), salah satu (tersangka) cewek malam yang menjual darah dagingnya itu diketahui telah 3 kali melahirkan.

Terjadi pada 2013, persalinan anak pertama Bunga dilakukan oleh dukun beranak Hot Mariana Br Manurung. Seusai lahir dengan selamat, bayi malang itu lalu dijual kepada seseorang bernama Muda Ijin Sidabutar. Bayi laki yang kini berumur 4 tahun itu diketahui bernama Togi Parulian Sidabutar.

Tetap dibantu Hot, anak kedua Lentina alias Bunga lahir pada 2016 dan dijual pada seseorang bermarga Sinaga. Anak itu kini dilaporkan telah berada di Batam.

Nah, bayi ketiganya yang persalinannya dibantu 2 bidan, Ernani Br Simanjuntak dan Eni Putri Ayu Sinurat, lahir pada Minggu malam 23 Juli lalu dan dijual kepada pasutri Periyadi dan Rosdiana. Bayi itu dijual dengan harga Rp15 juta.

Transaksi yang digelar di Huta VIII Desa Huta Padang, Kec Bandar Pasir Mandoge, Asahan, itu terjadi Senin 24 Juli atau sehari pasca bayi itu muncul ke dunia.

Sementara, Hot Mariana Br Manurung, sang dukun beranak yang turut ditangkap dalam kasus ini, mengaku telah membantu persalinan 5 cewek malam. Itu dilakoninya sejak 2010. 5 cewek malam yang beroperasi di Kafe Aek Liman itu adalah Lentina Panjaitan alias Bunga, Kunung, Boru Manik dan Jur Br Nasution dan Nurselma Br Rumapea.

“Semua anak dari para pelayan kafe yang dibantunya melahirkan itu diberikan kepada orang lain,” jelas Kombes (Pol) Rina Sari Ginting.

Nurselma Br Rumapea alias Rumpet, 1 di antara 5 cewek malam penjual darah daging sendiri itu mengaku melahirkan pada 10 Juli 2010. Dibantu dukun Hot, bayinya itu dijual kepada pasutri Toti Holong Sinaga dan Molina Br Simanjuntak alias Mak Valen. Toti Holong Sinaga yang juga telah berstatus tersangka, mengaku mengasuh anak kandung Nurselma sejak 12 Juli 2010. Anak laki yang kini berumur 7 tahun itu diketahui bernama Valentina Sinaga.

“Tersangka Trisno Rawadi Napitupulu alias Pak Kipen berperan membeli dan mengasuh seorang anak bayi laki-laki dari tersangka Hot Mariana Br Manurung pada 14 Februari 2014 dengan harga pembelian Rp7 juta,” tambah Rina soal transaksi lain dari sindikat ini.

Lalu, tersangka atas nama Lamria Tamba juga diketahui berperan sebagai pembeli seorang bayi. Terjadi pada 14 Februari 2014 dan dengan harga beli Rp7 juta, Lamria Tamba diketahui mendapat bayi laki dari dukun Hot.

Sementara, (tersangka) Muda Ijin Sidabutar alias Pendek diketahui berperan sebagai pengasuh atau pembeli anak pertama Lentina alias Bunga. Bayi cewek kafe itu dibelinya pada 2013.

“Terhadap para tersangka kini sedang dilakukan proses penyidikan dan telah ditahan di RTP Polsek Tanah Jawa,” pungkas Rina. (ari, m24)